Tentang Blog

Saturday, August 14, 2021

Gramedia Digital & Review Teman tapi Menikah

  

Saya baru saja mencoba mendaftar di Gramedia Digital minggu lalu. Saya memikirkan bahwa daftar bacaan saya sudah sangat kurang, terutama untuk buku-buku fiksi dan mempertimbangkan ongkir yang mahal juga budget bulanan yang kian ketat. Akhirnya, saya tertarik mengecek Gramedia digital. Setelah browsing ke beberapa blogger yang menggunakan aplikasi Gramedia, ternyata worth it la untuk dicoba. Asalkan buku yang ingin saya baca punya terbitan Gramedia, maka pastilah akan dapat saya baca. Jika penerbit lain, maka saya harus tetap membeli. Hal tersebut tidak begitu menjadi masalah bagi saya, sehingga saya akhirnya niat untuk berlangganan sebulan ini. Jika kemampuan baca saya juga lumayan maka akan saya teruskan berlangganan.

Kali pertama saya pesan ada diskon, sehingga saya hanya perlu membayar 31.500,00 untuk buku-buku fiksi. Namun sayang, saya salah membayar jumlah tagihan karena saya hanya mengirimkan 31.000. Juga saya mencoba membayar dari BRI, padahal hanya dapat membayar melalui Mandiri atau BNI. Jangan ditiru ya. Alhasil saya kelabakan. Namun Gramedia Digital Instagram menjawab pertanyaan saya dengan cepat. Saya kemudian Kembali mencoba membeli dengan menggunakan akun Mandiri mobile milik teman saya. Yeay, finally!

Ketika selesai pembayaran, otomatis ada keterangan bahwa saya telah berlangganan. Kemudian saya hanya perlu mencari judul buku yang saya inginkan. Pertama kali saya cari adalah buku laut bercerita. Kemudian saya unduh buku ringan Teman tapi Menikah.



TTM ini bacaan lumayan ringan tentang kisah pacaran artis Ayudia BS dengan suaminya. Bagaimana mereka berteman dan kemudian berpacaran. Sangat ringan dan cukup membuat saya jalan-jalan ke  masa lampau ke SMA. Ada yang relatable sedikit-sedikit mengenai kisah SMA. Jelas sangat tidak mirip juga sih. Bahasanya yang ringan juga banyak dialog membuat bacaaan ini bisa dibaca sekali duduk. Soalnya penasaran kalau tidak diselesaikan meski akhirnya sudah ketahuan seperti apa. Saya jadi berpikir enak juga ya menikah dengan teman. Tidak ribet mengulang-ulang pedekate dan memikirkan topi apa yang akan dibicarakan. Sudah sama-sama tahu orangnya bagaimana, sukanya apa, kalau marah bagaimana Mengalir begitu saja sudah. Tidak perlu riweh memikirkan percakapan-percakapan awal. Cuma memang wajib berteman sampai selesai SMA juga. Berjauhan tapi tetap berkabar dan ketemuan jadi tidak menjadi asing.

Adakah rekomendasi buku fiksi dari teman-teman?

Friday, August 13, 2021

Selamat Ulang Tahun Adik!

 

Saya bangun pagi. Sayangnya saya mengecek handphone dahulu. Namun ternyata saya lihat ada status adik bungsu saya yang memposting foto kakaknya nomor 3. 

Oh ternyata adik saya berulang tahun. Kelahiran 1995, jadi kira-kira berumur 26 tahun ya. Saya kepikiran untuk membelinya kue ulang tahun. Seru kan ya, bikin suprise
Lalu saya pikir- pikir kembali, ah lebih baik kasih uang saja. 

Saya ke kamarnya dan membangunkan selamat ulang tahun. 
"Mau apa? Kue ulang tahun? "tanya saya. 
" Ah, orang kalau niat tidak pakai kasih tahu. Beli saja terus kasih suprise"
Saya nyengir. Ya kasih uang saja e. 

Biasanya tradisi ulang tahun di rumah kami tidak terlalu spesial. Mendoakan lalu mengucap selamat. Biasanya potong ayam peliharaan tetapi tidak kami lakukan karena semua ayam induk dan sudah dijual. Adik juga tidak terlalu repot. 

Semoga yang terbaik di hidup. Sehat selalu. Dua tahun lalu tahun yang berat untuknya. Melihatnya sekarang saya sudah sangat bersyukur. Pelan-pelan semoga Tuhan memberi jalan untuk hidup dan berkeluarga. Terima kasih untuk jadi adik yang baik, biasa bantu masak dan cuci piring. Juga antar saya ke mana-mana. 

Wednesday, August 11, 2021

Laut Bercerita

  

Saya baru selesai membaca Laut Bercerita. Sudah cukup lama saya menginginkan untuk punya bukunya. Namun sayang keterbatasan akses dan memikirkan biaya kirim yang mahal dan kebutuhan yang banyak, keinginan untuk membeli online pun diurungkan. Syukurlah, saya akhirnya memutuskan berlangganan Gramedia digital. Voila, saya dapat langsung membaca laut bercerita.


Buku ini berlatar belakang sejarah orde baru. Bagaimana orang-orang kritis waktu itu dibungkam, pergerakan diawasi dengan ketat dan banyak orang hilang begitu saja. Bagaimana sekelompok mahasiswa aktivivis menjadi buronan karena dicari sebagai biang rusuh. Dicari siapa diatasnya, siapa petinggi. Entah tidak mau tahu bahwa tidak butuh siapa-siapa untuk bergerak dan berjuang melawan ketidakadilan. Hanya butuh empati dan simpati dengan orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan. Tidak disuruh siapa-siapa tapi karena tahu dan sadar bahwa selama berpuluh tahun pemerintahan dijalankan orang yang sama. 

Kisah sekelompok orang muda ini dibuat begitu detail. Kita pembaca diajak berjalan bersama di ruang-ruang waktu Laut, tokoh utama. Bagaimana Laut menceritakan orang-orang terdekatnya seperti orang tua, saudarinya, Asmara dan kekasihnya, Anjani. Juga karakter teman-teman perkumpulannya. Rasanya saya dapat membayangkan sekre-sekre kemahasiswaan di kampus-kampus. Secara personal, saya tidak aktif di sekre mana pun di kampus tetapi saya dapat membayangkan gambaran ruang wisma SY di Depok (saya Latihan padus Ave di sana) atau sekre Komjak di Kanisius ketika kami melakukan diskusi-diskusi. Terasa ramainya dengan manusia berbagai karakter dan latar belakang. Ini membuat kita sebagai pembaca dapat menjadi dekat karena berhubungan dengan pengalaman pribadi. Namun ketika Laut mulai menggambarkan detail ruang dan perasaan yang dirasakan ketika matanya ditutup paksa, saya bergidik. Untuk merasakan keleluasaan berekspresi seperti sekarang ini (?aww, we have UU ITE), ada sekumpulan orang yang ditangkap, dihilangkan, dibawa pergi dari keluarga dan orang-orang terkasih. Kekosongan hidup setelah kehilangan atau penolakan akan kenyataan membayangi seumur hidup. Siapakah yang bertanggung jawab?

Secara umum saya menikmati cerita ibu Leila Chudori ini. Membekas. Beberapa hari saya membaca dan merasa pening karena air mata berlinangan begitu saja. Kepala jadi pusing karena menangis dalam diam. Mengetahui bahwa ada orang-orang yang hidupnya ditarik pergi begitu saja. Mengetahui bahwa keluarga terus mengingat mereka dalam ketidakjelasan. Dengan mengenang mereka dan menuliskan sedikit review, saya kira, salah satu cara untuk menghargai kisah dan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

Pada malam yang gelap, dengan semilir angin sepoi

Salam baik, meski tidak ada nisan untuk sekedar menaruh karangan bunga

Atau menunduk berdoa bahwa jasad dibawa pulang dan menyatu

Mungkin selaras alam, berganti musim, lautan, tanah hanyalah ruang-ruang

Kekal tidak bersekat

Untuk mereka yang dihilangkan

x

Friday, July 9, 2021

Selamat Ulang Tahun Bapak!

  Tanggal 10 July lalu, bapak ulang tahun. Tidak ada perayaan atau makan enak. Tadinya saya berdua Wig berencana ke kampung, berkunjung dan membawa kue ulang tahun. Namun Wig harus ke kampung lebih awal karena mama sakit di kampung. 

Saya menelpon pagi-pagi dan memberi ucapan selamat. Bapak juga hampir lupa kalau ulang tahun. Semoga tahun depan kami merayakan dengan lebih baik. Kami memang tidak punya kebiasaan perayaan. Cuma menu makanan yang dikhususkan, ayam goreng atau bakar. 

Bapak yah orangnya begitu. Ceria. Suka bikin ramai, guyon biar tidak terlalu serius. Selalu percayakan apapun pilihan hidup ke anak. Kadang ingin dengar larang ini, larang itu tapi tidak. Asas bebas bertanggung jawab tetap dikasih. Berbicaranya lembut sekali. 

Pernah dimarahi? Pernah! Seram sekali orang yang jarang marah kalau sekalinya marah yah lebih menakutkan.  Saya senang bapak meskipun besar dalam lingkungan patriarki tetap memberi kesempatan kepada anak perempuan. Pekerjaan apa pun baik di dapur merupakan kerjaan semua anak, baik laki maupun perempuan. Mungkin karena dari dulu jadi anak tinggal, jadinya kebiasaan kerja itu selalu ada. Printilan tetapi membantu sekali. Saya senang fisik bapak masih kuat. Saya pikir ini karena beliau tidak punya ketrampilan bermotor sehingga selalu kuat jalan kaki. Panjang umur Bapaku. 

Hari ini Bapak memakamkan salah satu saudarinya, tanta Goo di kampung Daja. Bersyukur, bapak masih diberi kesehatan dan rejeki sehingga bisa menutup peti mati kakaknya. Selamat jalan tanta ine Go'o, anak-anak sudah berkoloni  dan membentuk keluarga besar. 

Banyak kematian akhir-akhir ini. Berduka cita mendalam untuk kepergian ibu dari adik Novi Azizah dan juga anak Marlin. Turut berduka sedalam-dalamnya untuk keluarga ka Pius Meo di kampung Tonggo. 

Wednesday, July 7, 2021

Writing Prompt: What you remember the most from your childhood?

  Answering question I guess is one way to keep me doing the productive writing. I felt stuck on what have to write so I checked on this list of questions. 

This one is interesting question, What I remember the most? It is the days I spent with my friends Arni and Eni when we were spending time, reading. Mostly all our conversations or activities related to the new magazines, books or comics. We spent time reading in Arni's house. Hideous way, at first, reading Arni's sister's magazine. It was Aneka Yess, sometimes Femina or Kartini. We sat in Arni's comfy sofa or sit at the edge of her bed. Sometimes new comics that we rent in rent store or borrow from other friends. We patiently took turn to read one by one. For comics, its quite fast, one sit and its finish. I miss those time and actually it was a good memory to be remembered. 

Besides that, we also had the habit every birthdays. The birthday girl would buy free meatball in our  favorite warung. Its quite unfair but well, the birthday girl got gifts. We were not quite fun in making event or had it big people around. It was just us but yeah we did in meaningful way. I forgot what kind of conversation that we had but we always have not enough time to gather and chat. 

Days when our exams just few months away were also nice to be remembered. Spent time wisely in group works from a friend house to another friend house. The important part was not the learning but the snack and cups of coffee or tea in every house we visit. It was good old days. We were young. Some friends were expressive. Its a mix. There always the chatty one, the nerd one and the playful one. Missing those days. Nowadays, my friends have their own families, kids and works. I hope their happy and healthy.

Sunday, July 4, 2021

Sad Feeling

  It is easy to feel sad recently and the fact that I know why I become sad. It is unusual feeling. New kind. I have never feel this kind of sad before.  The feeling of  disappointed has brought mixed feeling. I wonder whether the reason was accidentally.  I hope so. I feel bad for people if they intentionally to do so, so that they can sense and feel more about themselves. 

Adulting and growing includes bitterness and upset feeling. You always have the option to gracefully accept and move on the next chapter. Now you know!



Friday, July 2, 2021

Kelas Mingguan Ditiadakan

  Biasanya setiap Sabtu, adik saya, Wig akan mengantar saya ke Lego. Di sana sudah menunggu teman-teman muda untuk belajar bersama. Tidak terlalu serius, selalu kami usahakan ada game dan warm up yang menyenangkan. Sayang kali ini, kasus covid19 kembali meningkat. Kami harus mengikuti aturan dan ikut mencegah penularan dengan meniadakan kelas. Berarti ada rindu untuk pertemuan, pertanyaan, kelucuan, keisengan, kenakalan dan ada banyak tingkah laku teman-teman muda yang lucu-lucu.


Omong-omong mengenai materi di kelas. Kami masih terus belajar. Baik menyusun kurikulum juga belajar langsung ketika di kelas saja. Awalnya kami tidak melakukan pencatatan kegiatan. Memastikan ada yang dibawa pulang oleh adik-adik. Satu dua kosakata baru selain memenuhi permintaan game dari mereka. Nah ini salah, karena kami harus terus menulis dan memastikan semua kegiatan terefleksi dengan baik. Ada kekurangan di mana sehingga kemudian kami lebih perhatikan untuk pertemuan berikutnya. Kak Lidya Pone, salah satu relawan, sangat baik sekali. Dia menulis dengan detail pengalaman dan refleksi yang kemudian membantu kami menyusun materi. Energinya banyak sekali di kelas. Kalau saya lebih mempersiapkan materi dan printilan. 10 menit sepertinya bertahan. Tidak seperti dulu. Ya els, umur ya.


 
Kami dan sukarelawan bekerja sama menyusun kurikulum. Teman-teman sukarelawan tidak terbatas hanya di Nagekeo saja tetapi ada beberapa di tempat dan negara lain. Bersyukur ada mereka. Jadi bisa dibantu juga untuk evaluasi dan apa pun yang kami butuhkan untuk kelancaran kegiatan. Selanjutnya semoga semakin banyak kelas yang kami buka terutama di Danga.
Jadi postingan ini sebenarnya merindu. Tidak seperti Sabtu biasanya. Sedih juga sih.  Menyenangkan sekali belajar itu.


Regret

​I feel sick of things. A sudden remember of old conversations that make me wondering for a long time. Like it finally make sense and oh tha...