Catatan Perjalanan Rosa

Tentang Blog

  • Home
  • About me

Monday, September 23, 2019

What's happen lately?

 Hi world,

Can I kiss you again? Can I nag and murmur at you? For all the unfairnes and sadness happen lately.Hello, Its been a while to leave writing habit. I am happy to be back again. Jiwa lamaku bersorak sorai sebab waktunya kembali menghampiri. Dunia perpolitikan Indonesia sedang sedih sedihnya. Presiden baru muka lama yang sedang diuji keberpihakannya, dengan gaya lama pencitraan yang coba dibawakan kembali. Beberapa orang bilang sudah saatnya "social media strategist" -nya diganti. Butuh orang baru, butuh inovasi. Lebih tepatnya, please bapak e su ti pake itu pencitraan, kasih solusi masalah saja bapak. Masa setelah kunjung lahan yang dibakar dan melihat derita masyarakat yang menghirup kabut asap, tim bapak lalu posting soal menghabiskan waktu keluarga. Then I can't blame people throwing critics at you but you deserve.

Lalu mari bergeser ke persetujuan undang-undang KPK. It took no time to be agreed like I mean they were kind of rushing it, didn't they? Its kind of sad there were not so many protests on it from people that I think would like help common people like us to understand what is it about. Rest in Peace, KPK! Lebih banyak birokrasi yang harus dilewati juga perizinan pada kelompok dewan yang terhormat. Lalu tidak akan ada yang ditangkap karena kasus korupsi. Semuanya aman sesuai prosedur. I was a bit surprised and sad there were no so much protest and booming like other issues really. Where are you people?  There was a hope at the end of the week, to see students being a part of the movement. Super proud.

Kemudian RUU KUHP yang beberapa memuat poin-poin yang masih mengandung ketidakadilan pada minoritas juga tidak jelas. Mereka yang gelandangan didenda, is this a problem solving way? memutus rantai permasalahan pada akarnya?

Menertawai undang -undang yang lebih fokus ke urusan selangkangan dan menutup informasi untuk pendidikan seksual sejak dini. Padahal informasi ini penting sekali. Tentu saja dengan poin penting pada target dan gaya pemyampaian.

I was in Makassar last month, bought underwears with group of friends. Ifa was an activist in giving children sexual education.  As one that exposed with so much information available in term of sexuality, I was embarrassed to bring to a cashier whom was a man so I gave my underwears to my friend. Ifa, who was like a mother, Ka Rosa kenapa? Kasih sendiri aja? Kenapa malu kak?"

This was one of scene that I contemplated the most for the whole week, I realized that I am lacking on deep understanding about being a woman and facing her sexuality.This one shall not pass. Sending lots of love and hugs for those who speak up about this. Universe will conspire for all the fairness ideas, action and movement.



at September 23, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2019, refleksi

Sunday, September 22, 2019

Hello!

 ts been a while

To feel this vulnerability
To feel this unorganized mind
To feel this butterflies

Its been a while
Say hello
Say hi
No Goodbye

Its been a while
To feel this naked
To feel this exposed
To feel this excitement

Its been a while
Say hello
Say hi
No Goodbye

For I am a fragile soul
and I deserve your gentle touch
For I am a fragile soul
and I deserve your wild love



at September 22, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2019, Poem, puisi

Wednesday, August 28, 2019

Inspirasi Alumni Gathering Makassar

 Selamat pagi dari Makassar! Sambil menunggu matahari terbit, saya mau berkomitmen untuk menulis lagi. Saya punya banyak sekali utang tulisan. Saya tidak bisa mengeluh kalau terlalu sibuk. Saya punya banyak waktu untuk menulis dan berefleksi. Menulis merupakan salah satu cara mendapatkan kebahagiaan. Meski, saya punya banyak PR untuk terus meningkatkan ketrampilan menulis. Terima kasih untuk mentor-mentor saya yang terus mengingatkan saya untuk tetap menulis.


Ini kali pertama saya ke Makassar. Bahagia bisa menginjakan kaki di Pulau Sulawesi dalam rangka mengikuti pertemuan alumni pertama program INSPIRASI. Program belajar yang saya ikuti selama 6 bulan di Selandia Baru. Kegiatan apa saya yang kami lakukan? Tentu saja melepas kangen dengan teman-teman baik, lalu presentasi project dan kunjungan. Kami disambut baik dan hangat  sekali oleh Bakti, Ibu Suzan, Ibu Sherly dan Pak Yusran. Selama kegiatan difasilitasi oleh Ibu Luna Vidya yang selalu bersemangat. Di hari pertama, kami mendapat paparan materi dari Pak Andi Yani (dosen UNHAS) lalu Ibu Lusi mengenai gambaran umum politik Indonesia dan peran NGO di dalamnya. Tahu sendiri saya tadinya agak skeptis soal politik.

Saya sangat bersyukur sekali bertemu teman-teman inspiratif ini. Awalnya saya agak skeptis bisa solid. Tahu saja, selama 6 bulan di Auckland butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk merasa nyaman. Apalagi saya anaknya suka melakukan apa-apa sendiri, bahkan jalan-jalan.
Dulu,
Kk T: What is your plan for the weekend?”
Me:  “Will go to the museum”
Kk T: Can I go with you?
Me: “No”! 
Iya, saya sejahat itu. Namun sebenarnya tidak jahat juga, lebih kepada ingin bereksperimen menikmati hal-hal baru sendiri. Untunglah, teman-teman memaklumi dan tidak mempermasalahkan.
Namun baiknya, saling pengertian dan cinta itu selalu ada sehingga saya sangat menikmati pertemuan alumni ini. Mereka sudah seperti saudara sendiri. Saya jarang telpon atau cek-cek instagram tapi sekalinya telpon atau chat pasti lama.  Sayangnya, Fauzan sakit dan tidak bisa ikut ke Bira.


Presentasi project berlangsung baik sekali. Bangga sekali dengan serial perkembangan teman-teman sekalian. Making-masing punya tantangannya sendiri dari mengusulkan ide, presentasi proposal sampah tahap eksekusi. Namun seperti yang ka Tirsa selalu sampaikan, bermimpilah yang besar, pasti projectnya jadi dan bermanfaat.

Berikutnya kami akan melakukan kunjungan ke beberapa organisasi hari ini dan besok.
at August 28, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2019, Bira, inspirasiprogram, Makassar

Saturday, June 1, 2019

Nagekeo-Auckland 1

 Life is full of surprise



you are uncertain, but it's OK
It leads you to somewhere
somewhere you've imagined
just because you like words a lot
Congrats, enjoy and have fun, you!

( Auckland, NZ, 2018)


Perjalanan panjang dari Nagekeo ke New Zealand telah dipersiapkan dari jauh-jauh hari oleh #UNIONAID & #YayasanBHAKTI sejak proses seleksi di 12 April 2018 di Kupang. Laila, host kami di Auckland sudah mengirim email pengurusan visa dan lainnya sejak jauh-jauh hari. Lumayan banyak data yang harus diisi. Namun karena kami memiliki alasan yang jelas juga host dan kegiatan yang sudah terjadwal di Auckland, pengisian berjalan dengan lancar. 


Saya masih ingat ketika email masuk untuk wawancara di Kupang. Gembira luar biasa tapi agak deg-degan karena saya sempat mengiyakan untuk mengajar di universitas baru. Beberapa hari sebelum interview saya sempat panik, namun untunglah ada si Yoke, yang menenangkan.
Saat itu saya sedang membantu mengajar di Univ Sad Pedro Kupang. Belum ada dua bulan. 
Panik urusan ini dan itu terutama paspor. Namun karena akses kemana-mana gampang. Kebetulan saya di Kupang dan dekat dengan kantor imigrasi. Kalau saya di Nagekeo, bakal susah.  Saya langsung menyiapkan diri dengan baik, terutama pengurusan passpor.  Syukurlah saya mendapat akses internet yang baik.

Saya mengurus paspor di Kupang dan lancar jaya bikinnya. Membaya dokumen yang dipersyaratkan dan membayar uang administrasi melalui teler bank. Pertanyaan yang diajukan oleh pegawai kantor imigrasi pun bisa dijawab dengan mudah.

Apa saja pertanyaan wawancara untuk program INSPIRASI?Sama seperti program beasiswa lainnya. Tentu saja terkait kegiatan &  komitmen kerja di organisasi, aktivitas sehari-hari, harapan selama ada di New Zealand, misalnya apa saja yang ingin dipelajari selama di Auckland dan bagaimana kebermanfaatannya untuk diri sendiri dan organisasi atau tempat kerja di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin mengikuti program-program fellowship ke luar negeri. 



at June 01, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2019, luar negri, New Zealand, travel, travelling

Tuesday, April 23, 2019

What happens lately?

Hi world,

Can I kiss you again?
Can I nag and murmur at you? For all the unfairnes and sadness happen lately.

Hello, Its been a while to leave writing habit. I am happy to be back again. Jiwa lamaku bersorak sorai sebab waktunya kembali menghampiri.

Dunia perpolitikan Indonesia sedang sedih sedihnya. Presiden baru muka lama yang sedang diuji keberpihakannya, dengan gaya lama pencitraan yang coba dibawakan kembali. Beberapa orang bilang sudah saatnya "social media strategist" -nya diganti. Butuh orang baru, butuh inovasi. Lebih tepatnya, please bapak e su ti pake itu pencitraan, kasih solusi masalah saja bapak. Masa setelah kunjung lahan yang dibakar dan melihat derita masyarakat yang menghirup kabut asap, tim bapak lalu posting soal menghabiskan waktu keluarga. Then I can't blame people throwing critics at you but you deserve.

Lalu mari bergeser ke persetujuan undang-undang KPK. It took no time to be agreed like I mean they were kind of rushing it, didn't they? Its kind of sad there were not so many protests on it from people that I think would like help common people like us to understand what is it about. Rest in Peace, KPK! Lebih banyak birokrasi yang harus dilewati juga perizinan pada kelompok dewan yang terhormat. Lalu tidak akan ada yang ditangkap karena kasus korupsi. Semuanya aman sesuai prosedur. I was a bit surprised and sad there were no so much protest and booming like other issues really. Where are you people?  There was a hope at the end of the week, to see students being a part of the movement. Super proud.

Kemudian RUU KUHP yang beberapa memuat poin-poin yang masih mengandung ketidakadilan pada minoritas juga tidak jelas. Mereka yang gelandangan didenda, is this a problem solving way? memutus rantai permasalahan pada akarnya?

Menertawai undang -undang yang lebih fokus ke urusan selangkangan dan menutup informasi untuk pendidikan seksual sejak dini. Padahal informasi ini penting sekali. Tentu saja dengan poin penting pada target dan gaya penyampaian.

I was in Makassar last month, bought underwears with group of friends. Ifa was an activist in giving children sexual education.  As one that exposed with so much information available in term of sexuality, I was embarrassed to bring to a cashier whom was a man so I gave my underwears to my friend. Ifa, who was like a mother, Ka Rosa kenapa? Kasih sendiri aja? Kenapa malu kak?"
This was one of scene that I contemplated the most for the whole week, I realized that I am lacking on deep understanding about being a woman and facing her sexuality.

This one shall not pass. Sending lots of love and hugs for those who speak up about this. Universe will conspire for all the fairness ideas, action and movement.
at April 23, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2019, English Post, RUU KUHP, sosial politik

Monday, March 4, 2019

Hidup di Auckland

 

Tak terasa sudah dua bulan saya menginjakan kaki di New Zealand. 
Arghh, waktu cepat berlalu. Di postingan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kehidupan di Auckland, ativitas harian dan kegiatan-kegiatan yang saya dan kawan-kawan lakukan di sini. 

Host & Kebiasaan di rumah
22 Juni kami tiba di Auckland, dijemput Laila dan Mike (salah satu volunteer). Kami diantar menuju kantor #unionaid. Kami dipertemukan dengan para host yang akan menjadi tuan rumah kami selama di Auckland. Kami berkenalan satu per satu kemudian juga dikasih beberapa perlengkapan juga baju-baju dingin dan syal yang dapat kami pakai. Ketika kami datang sedang musim dingin dan cuaca sedang dingin-dinginnya. 

Saya dijemput K. Kami lalu singgah di tempat perbelanjaan sebentar sambil minum kopi. Saat itu saya pikir K sedang berusaha untuk mengenal saya lebih dekat. Sebelumnya kami sudah saling mengenal secara online. K mengirim saya email dan mengenalkan seluruh anggota keluarganya. Kebetulan yang tinggal di rumah

 ada K dan suaminya M juga H anak SMA dari Hongkong. Untuk welcome dinnernya, K dan M mengajak saya makan di restoran Italia favorit mereka berdua. 

Sehari-hari K bekerja sebagai dosen dan M di pabrik. Kami biasanya bertemu di malam hari ketika makan malam bersama. Tiap pagi saya dan M akan bangun terlebih dahulu, mandi dan bikin sarapan masing-masing. Di hari pertama saya sudah diajarkan bikin sarapan. Kalau mau roti bakar, bubur sereal sama campuran susu yang dimasak pakai microwave. Lalu  segelas susu sapi segar. Ya Tuhan kapan lagi ya ini. Kami masing-masing bikin makanan sendiri lalu kalau sempat mengobrol sambil M membaca koran pagi. 

Untuk makan malam biasanya yang masak si M. Kadang nasi, kadang kentang. Tiap Jumat kita biasanya pesan makan dari luar. Secara umum, sebagian orang di NZ  pesan fish and chips setiap Jumat malam.  Saya kurang suka ikannya biasanya saya ganti jadi chicken and chips. Lalu Sabtu pagi biasanya K, M akan mengajak saya dan H untuk sarapan di luar, di kafe-kafe sambil jalan pagi.

Transportasi 

Selama di kota Auckland kami harus menggunakan transport umum  untuk ke kampus AUT, tempat kami belajar. Akses transportasi sangat mudah dari tempat saya. Hanya perlu jalan kaki ke halte dan naik bus nomor 18. Kadang menunggu 5-10 menit dan bus selalu ada. Masuk keluar bus kita tinggal tap kartu bus (Auckland Hop Card) yang sudah diisi dengan uang, jadi tidak perlu ribet membayar ke sopir. Turunnya tentu saja harus selalu di halte. Jangan lupa tekan tombol untuk memberi sinyal bahwa akan turun di halte berikutnya karena bus tidak akan selalu berhenti di tiap halte. 
Kartu ini terintegrasi bisa digunakan untuk kereta dan ferry antar pulau.  












at March 04, 2019 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Friday, October 5, 2018

Bumi Manusia

 Sudah tahu kan salah satu karya besar dari Pramodya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia? Sedang booming beberapa minggu terakhir ini karena kabar bukunya akan difilmkan. Lalu ada pro dan kontra mengenai pemeran Minke, tokoh utama dalam kisah bumi manusia.

Pasti banyak yang beli dan baca bukunya seperti saya yang buru- buru bongkar kardus. Sebenarnya, saya sangat terlambat sekali baca buku ini, sudah dikenalkan bertahun lalu. Bukunya baru dicari Oktober kemarin di pasar buku Palasari Bandung. Maafkan,  beli bajakan dan sangat tidak disarankan. Mending beli asli. Nah sejak Oktober buku kemudian dipacking rapi karena harus balik ke rumah. Jadi buku bagus ini kemudian baru dibongkar dari kardus. Untunglah terbeli hingga bisa sedikit berkomentar mengenai apakah Iqbal Junior aka Dilan dapat memerankan tokoh  Minke dalam buku tersebut. Menurut saya, Minke hanya sebagai pusat dalam cerita yang akan membawa kita pada tokoh-tokoh lainnya yang punya ceritanya masing-masing.

Minke adalah seorang pemuda terpelajar asli Indonesia, anak bangsawan yang menyembunyikan identitas kebangsawanannya, berkesempatan mengenyam pendidikan di Hoogere Burgerschool, HBS. Jadi namanya cuma Minke saja, tanpa embel-embel. Sering jadi pertanyaan kalau kenalan. Karakternya digambarkan berpikiran terbuka, beda dari pemuda kebanyakan, keras kepala, suka diskusi dan rajin. Juga, IMHO, Minke ini setia, berkomitmen dan luwes dibuktikan dengan kisah pertemuannya dengan Annelise yang cukup instan tapi membekas dalam.

Apakah Iqbal Cowboy Junior dapat memerankan Minke? Saya sepakat dengan salah satu quote dari sekian banyak quote yang bagus dalam buku ini. Seorang terpelajar  itu harus adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.
Semoga kita berlaku adil dalam menilai kualitas Iqbal sebagai aktor pendatang baru juga si sutradara yang sebenarnya juga banyak diragukan netizen. Saya juga harus jujur, kurang tertarik dengan karya-karya HB. Namun tentu saja saya tidak berbusa busa untuk mengeluhkan keadaan yang sudah demikian dan harus saya akui bahwa sahaya biasanya hanya menonton filmnya tanpa mempersoalkan atau bahkan mau mengenal siapa sutradaranya.

Terlepas dari Minke, saya lebih penasaran dengan sosok Nyai Ontosoroh dan anaknya Annelis. Kisah hidup mereka jauh lebih kompleks dan dalam juga karakter mereka. Aktor yang memerankan haruslah mampu menghadirkan kelamnya hidup Nyai Ontosoroh serta karakter wanita cerdas  dalam bahasa tubuhnya.

Penulis mampu memainkan emosi pembaca dalam membaca buku ini. Penasaran, sedih dan gembira serta kemarahan saya rasakan. Saya tekankan rasa sedih mengenai orang-orang yang lemah posisinya karena bertumpuk-tumpuk peraturan bernama hukum. Jadi semacam ada setumpuk bawang merah ketika Annelis dipaksa pindah jauh. Hopefully this is not spoiler. 

Juga pentingnya nasihat nasihat atau pesan seorang Pramodya dalam bentuk percakapan-percakapan yang sungguh tidak menggurui. Saya belajar banyak hal dari buku ini.

Harapan saya buku Bumi Manusia menjadi bacaan wajib di sekolah atau perkuliahan tidak milik mereka yang belajar sastra. Supaya apa?
Karakter anak Indonesia yang lebih kuat dan beradab, tidak ada kesombongan intelektual, bullying ( saat ini via medsos terpampang nyata), penghargaan atas setiap ciptaan, tidak prasangka atau berlaku adil sejak dalam pikiran aka pakai data, pakai fakta baru you judge.

Sekiranya itu sedikit banyak yang bisa saya tuangkan dalam bentuk tulisan mengenai Bumi Manusia.
Tabik.

at October 05, 2018 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: 2018
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

S.Ak

​Kemarin saya menerima telpon group dari mama saya dan adik saya. Ternyata hari itu adik saya sudah mengabari kalau dia akhirnya selesai sid...

  • Kebiasaan baru
     Sudah lama ingin punya kebiasaan untuk olahraga secara rutin. Entah jalan kaki atau yoga. Setelah teman saya Lidya pergi sekolah ke Austral...
  • Perjalanan ke Hue-Vietnam 2022
     Akhirnya sesi felowship EI dimulai dengan retreat di Hanoi Vietnam di minggu ketiga dan keempat April lalu. Tentu saja saya tidak dapat per...
  • 2026- Jakarta, please be kind!
    Sudah Februari saja. Di Januari sempat punya tekad untuk menulis blog lebih banyak lalu berakhir di jurnaling pribadi lebih banyak.  Selamat...

Search This Blog

About me

  • Home

Labels

  • #2015
  • #beasiswa #LPDP
  • #letterofacceptance #S2
  • #LOA
  • #pendidikan
  • #wawancaraLPDP
  • #writing #2023 #highlight2023 #visionboard
  • 2009
  • 2018
  • 2019
  • 2021
  • 2022
  • 30harimenulis
  • Agustus
  • anak
  • anak muda
  • asia trek
  • Auckland
  • Bali
  • bandara
  • belajarInggris
  • bidara
  • Bira
  • Bisnis Plan
  • Brother
  • cegahbrainrot
  • Desember
  • English Club
  • English Post
  • equityinnitiative
  • esensibelajarkimia
  • Floratama Academy
  • Flores
  • Flores overland
  • guru
  • hari ibu
  • heartbroken
  • hubungan
  • inspirasiprogram
  • journey
  • keluarga
  • Kompetisi
  • Komunitas
  • laut bercerita
  • lifeis
  • Lomba
  • lovestories
  • luar negri
  • Makassar
  • Malaysia
  • manfaat membaca
  • Mbay
  • membaca
  • mengajar
  • menulis
  • Nagekeo
  • New Zealand
  • opini
  • Paspor
  • peliharaanrumah
  • perempuan
  • personal
  • pilihan hidup
  • Poem
  • prokes bandara
  • puisi
  • reflection
  • refleksi
  • reflesi
  • rekleksi
  • review buku
  • RUU KUHP
  • Singapura
  • sosial politik
  • stoic
  • teman tapi menikah
  • tenun
  • travel
  • travelling
  • trip
  • tulisanpertama
  • ucapan
  • ulangtahun
  • universe
  • USA
  • Vietnam
  • visa Amerika
  • Volunteer
  • Workshop
  • writing
  • zona nyaman
  • ▼  2026 (13)
    • ▼  July 2026 (5)
      • S.Ak
      • Surabaya
      • Algoritma
      • God’s Own land, India
      • Mahasiswa terus berjuang
    • ►  May 2026 (1)
    • ►  February 2026 (2)
    • ►  January 2026 (5)
  • ►  2024 (3)
    • ►  September 2024 (1)
    • ►  March 2024 (2)
  • ►  2023 (2)
    • ►  December 2023 (1)
    • ►  February 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  December 2022 (3)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (3)
    • ►  May 2022 (3)
    • ►  April 2022 (2)
    • ►  March 2022 (2)
    • ►  February 2022 (1)
  • ►  2021 (31)
    • ►  December 2021 (3)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  September 2021 (3)
    • ►  August 2021 (4)
    • ►  July 2021 (4)
    • ►  June 2021 (6)
    • ►  May 2021 (4)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  February 2021 (3)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  November 2020 (2)
  • ►  2019 (18)
    • ►  November 2019 (2)
    • ►  October 2019 (7)
    • ►  September 2019 (5)
    • ►  August 2019 (1)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  March 2019 (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  June 2018 (1)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2015 (1)
    • ►  February 2015 (1)
  • ►  2009 (1)
    • ►  March 2009 (1)

About Me

RosaDP
View my complete profile

Report Abuse

Blog Archive

  • July 2026 (5)
  • May 2026 (1)
  • February 2026 (2)
  • January 2026 (5)
  • September 2024 (1)
  • March 2024 (2)
  • December 2023 (1)
  • February 2023 (1)
  • December 2022 (3)
  • October 2022 (1)
  • August 2022 (3)
  • May 2022 (3)
  • April 2022 (2)
  • March 2022 (2)
  • February 2022 (1)
  • December 2021 (3)
  • November 2021 (1)
  • September 2021 (3)
  • August 2021 (4)
  • July 2021 (4)
  • June 2021 (6)
  • May 2021 (4)
  • April 2021 (1)
  • February 2021 (3)
  • January 2021 (2)
  • November 2020 (2)
  • November 2019 (2)
  • October 2019 (7)
  • September 2019 (5)
  • August 2019 (1)
  • June 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • March 2019 (1)
  • October 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • July 2018 (2)
  • June 2018 (1)
  • April 2018 (3)
  • March 2018 (1)
  • February 2018 (2)
  • January 2018 (3)
  • February 2015 (1)
  • March 2009 (1)
Travel theme. Powered by Blogger.