Tentang Blog

Saturday, June 1, 2019

Nagekeo-Auckland 1

 Life is full of surprise



you are uncertain, but it's OK
It leads you to somewhere
somewhere you've imagined
just because you like words a lot
Congrats, enjoy and have fun, you!

( Auckland, NZ, 2018)


Perjalanan panjang dari Nagekeo ke New Zealand telah dipersiapkan dari jauh-jauh hari oleh #UNIONAID & #YayasanBHAKTI sejak proses seleksi di 12 April 2018 di Kupang. Laila, host kami di Auckland sudah mengirim email pengurusan visa dan lainnya sejak jauh-jauh hari. Lumayan banyak data yang harus diisi. Namun karena kami memiliki alasan yang jelas juga host dan kegiatan yang sudah terjadwal di Auckland, pengisian berjalan dengan lancar. 


Saya masih ingat ketika email masuk untuk wawancara di Kupang. Gembira luar biasa tapi agak deg-degan karena saya sempat mengiyakan untuk mengajar di universitas baru. Beberapa hari sebelum interview saya sempat panik, namun untunglah ada si Yoke, yang menenangkan.
Saat itu saya sedang membantu mengajar di Univ Sad Pedro Kupang. Belum ada dua bulan. 
Panik urusan ini dan itu terutama paspor. Namun karena akses kemana-mana gampang. Kebetulan saya di Kupang dan dekat dengan kantor imigrasi. Kalau saya di Nagekeo, bakal susah.  Saya langsung menyiapkan diri dengan baik, terutama pengurusan passpor.  Syukurlah saya mendapat akses internet yang baik.

Saya mengurus paspor di Kupang dan lancar jaya bikinnya. Membaya dokumen yang dipersyaratkan dan membayar uang administrasi melalui teler bank. Pertanyaan yang diajukan oleh pegawai kantor imigrasi pun bisa dijawab dengan mudah.

Apa saja pertanyaan wawancara untuk program INSPIRASI?Sama seperti program beasiswa lainnya. Tentu saja terkait kegiatan &  komitmen kerja di organisasi, aktivitas sehari-hari, harapan selama ada di New Zealand, misalnya apa saja yang ingin dipelajari selama di Auckland dan bagaimana kebermanfaatannya untuk diri sendiri dan organisasi atau tempat kerja di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin mengikuti program-program fellowship ke luar negeri. 



Tuesday, April 23, 2019

What happens lately?

Hi world,

Can I kiss you again?
Can I nag and murmur at you? For all the unfairnes and sadness happen lately.

Hello, Its been a while to leave writing habit. I am happy to be back again. Jiwa lamaku bersorak sorai sebab waktunya kembali menghampiri.

Dunia perpolitikan Indonesia sedang sedih sedihnya. Presiden baru muka lama yang sedang diuji keberpihakannya, dengan gaya lama pencitraan yang coba dibawakan kembali. Beberapa orang bilang sudah saatnya "social media strategist" -nya diganti. Butuh orang baru, butuh inovasi. Lebih tepatnya, please bapak e su ti pake itu pencitraan, kasih solusi masalah saja bapak. Masa setelah kunjung lahan yang dibakar dan melihat derita masyarakat yang menghirup kabut asap, tim bapak lalu posting soal menghabiskan waktu keluarga. Then I can't blame people throwing critics at you but you deserve.

Lalu mari bergeser ke persetujuan undang-undang KPK. It took no time to be agreed like I mean they were kind of rushing it, didn't they? Its kind of sad there were not so many protests on it from people that I think would like help common people like us to understand what is it about. Rest in Peace, KPK! Lebih banyak birokrasi yang harus dilewati juga perizinan pada kelompok dewan yang terhormat. Lalu tidak akan ada yang ditangkap karena kasus korupsi. Semuanya aman sesuai prosedur. I was a bit surprised and sad there were no so much protest and booming like other issues really. Where are you people?  There was a hope at the end of the week, to see students being a part of the movement. Super proud.

Kemudian RUU KUHP yang beberapa memuat poin-poin yang masih mengandung ketidakadilan pada minoritas juga tidak jelas. Mereka yang gelandangan didenda, is this a problem solving way? memutus rantai permasalahan pada akarnya?

Menertawai undang -undang yang lebih fokus ke urusan selangkangan dan menutup informasi untuk pendidikan seksual sejak dini. Padahal informasi ini penting sekali. Tentu saja dengan poin penting pada target dan gaya penyampaian.

I was in Makassar last month, bought underwears with group of friends. Ifa was an activist in giving children sexual education.  As one that exposed with so much information available in term of sexuality, I was embarrassed to bring to a cashier whom was a man so I gave my underwears to my friend. Ifa, who was like a mother, Ka Rosa kenapa? Kasih sendiri aja? Kenapa malu kak?"
This was one of scene that I contemplated the most for the whole week, I realized that I am lacking on deep understanding about being a woman and facing her sexuality.

This one shall not pass. Sending lots of love and hugs for those who speak up about this. Universe will conspire for all the fairness ideas, action and movement.

Monday, March 4, 2019

Hidup di Auckland

 

Tak terasa sudah dua bulan saya menginjakan kaki di New Zealand. 
Arghh, waktu cepat berlalu. Di postingan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kehidupan di Auckland, ativitas harian dan kegiatan-kegiatan yang saya dan kawan-kawan lakukan di sini. 

Host & Kebiasaan di rumah
22 Juni kami tiba di Auckland, dijemput Laila dan Mike (salah satu volunteer). Kami diantar menuju kantor #unionaid. Kami dipertemukan dengan para host yang akan menjadi tuan rumah kami selama di Auckland. Kami berkenalan satu per satu kemudian juga dikasih beberapa perlengkapan juga baju-baju dingin dan syal yang dapat kami pakai. Ketika kami datang sedang musim dingin dan cuaca sedang dingin-dinginnya. 

Saya dijemput K. Kami lalu singgah di tempat perbelanjaan sebentar sambil minum kopi. Saat itu saya pikir K sedang berusaha untuk mengenal saya lebih dekat. Sebelumnya kami sudah saling mengenal secara online. K mengirim saya email dan mengenalkan seluruh anggota keluarganya. Kebetulan yang tinggal di rumah

 ada K dan suaminya M juga H anak SMA dari Hongkong. Untuk welcome dinnernya, K dan M mengajak saya makan di restoran Italia favorit mereka berdua. 

Sehari-hari K bekerja sebagai dosen dan M di pabrik. Kami biasanya bertemu di malam hari ketika makan malam bersama. Tiap pagi saya dan M akan bangun terlebih dahulu, mandi dan bikin sarapan masing-masing. Di hari pertama saya sudah diajarkan bikin sarapan. Kalau mau roti bakar, bubur sereal sama campuran susu yang dimasak pakai microwave. Lalu  segelas susu sapi segar. Ya Tuhan kapan lagi ya ini. Kami masing-masing bikin makanan sendiri lalu kalau sempat mengobrol sambil M membaca koran pagi. 

Untuk makan malam biasanya yang masak si M. Kadang nasi, kadang kentang. Tiap Jumat kita biasanya pesan makan dari luar. Secara umum, sebagian orang di NZ  pesan fish and chips setiap Jumat malam.  Saya kurang suka ikannya biasanya saya ganti jadi chicken and chips. Lalu Sabtu pagi biasanya K, M akan mengajak saya dan H untuk sarapan di luar, di kafe-kafe sambil jalan pagi.

Transportasi 

Selama di kota Auckland kami harus menggunakan transport umum  untuk ke kampus AUT, tempat kami belajar. Akses transportasi sangat mudah dari tempat saya. Hanya perlu jalan kaki ke halte dan naik bus nomor 18. Kadang menunggu 5-10 menit dan bus selalu ada. Masuk keluar bus kita tinggal tap kartu bus (Auckland Hop Card) yang sudah diisi dengan uang, jadi tidak perlu ribet membayar ke sopir. Turunnya tentu saja harus selalu di halte. Jangan lupa tekan tombol untuk memberi sinyal bahwa akan turun di halte berikutnya karena bus tidak akan selalu berhenti di tiap halte. 
Kartu ini terintegrasi bisa digunakan untuk kereta dan ferry antar pulau.  












Friday, October 5, 2018

Bumi Manusia

 Sudah tahu kan salah satu karya besar dari Pramodya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia? Sedang booming beberapa minggu terakhir ini karena kabar bukunya akan difilmkan. Lalu ada pro dan kontra mengenai pemeran Minke, tokoh utama dalam kisah bumi manusia.

Pasti banyak yang beli dan baca bukunya seperti saya yang buru- buru bongkar kardus. Sebenarnya, saya sangat terlambat sekali baca buku ini, sudah dikenalkan bertahun lalu. Bukunya baru dicari Oktober kemarin di pasar buku Palasari Bandung. Maafkan,  beli bajakan dan sangat tidak disarankan. Mending beli asli. Nah sejak Oktober buku kemudian dipacking rapi karena harus balik ke rumah. Jadi buku bagus ini kemudian baru dibongkar dari kardus. Untunglah terbeli hingga bisa sedikit berkomentar mengenai apakah Iqbal Junior aka Dilan dapat memerankan tokoh  Minke dalam buku tersebut. Menurut saya, Minke hanya sebagai pusat dalam cerita yang akan membawa kita pada tokoh-tokoh lainnya yang punya ceritanya masing-masing.

Minke adalah seorang pemuda terpelajar asli Indonesia, anak bangsawan yang menyembunyikan identitas kebangsawanannya, berkesempatan mengenyam pendidikan di Hoogere Burgerschool, HBS. Jadi namanya cuma Minke saja, tanpa embel-embel. Sering jadi pertanyaan kalau kenalan. Karakternya digambarkan berpikiran terbuka, beda dari pemuda kebanyakan, keras kepala, suka diskusi dan rajin. Juga, IMHO, Minke ini setia, berkomitmen dan luwes dibuktikan dengan kisah pertemuannya dengan Annelise yang cukup instan tapi membekas dalam.

Apakah Iqbal Cowboy Junior dapat memerankan Minke? Saya sepakat dengan salah satu quote dari sekian banyak quote yang bagus dalam buku ini. Seorang terpelajar  itu harus adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.
Semoga kita berlaku adil dalam menilai kualitas Iqbal sebagai aktor pendatang baru juga si sutradara yang sebenarnya juga banyak diragukan netizen. Saya juga harus jujur, kurang tertarik dengan karya-karya HB. Namun tentu saja saya tidak berbusa busa untuk mengeluhkan keadaan yang sudah demikian dan harus saya akui bahwa sahaya biasanya hanya menonton filmnya tanpa mempersoalkan atau bahkan mau mengenal siapa sutradaranya.

Terlepas dari Minke, saya lebih penasaran dengan sosok Nyai Ontosoroh dan anaknya Annelis. Kisah hidup mereka jauh lebih kompleks dan dalam juga karakter mereka. Aktor yang memerankan haruslah mampu menghadirkan kelamnya hidup Nyai Ontosoroh serta karakter wanita cerdas  dalam bahasa tubuhnya.

Penulis mampu memainkan emosi pembaca dalam membaca buku ini. Penasaran, sedih dan gembira serta kemarahan saya rasakan. Saya tekankan rasa sedih mengenai orang-orang yang lemah posisinya karena bertumpuk-tumpuk peraturan bernama hukum. Jadi semacam ada setumpuk bawang merah ketika Annelis dipaksa pindah jauh. Hopefully this is not spoiler. 

Juga pentingnya nasihat nasihat atau pesan seorang Pramodya dalam bentuk percakapan-percakapan yang sungguh tidak menggurui. Saya belajar banyak hal dari buku ini.

Harapan saya buku Bumi Manusia menjadi bacaan wajib di sekolah atau perkuliahan tidak milik mereka yang belajar sastra. Supaya apa?
Karakter anak Indonesia yang lebih kuat dan beradab, tidak ada kesombongan intelektual, bullying ( saat ini via medsos terpampang nyata), penghargaan atas setiap ciptaan, tidak prasangka atau berlaku adil sejak dalam pikiran aka pakai data, pakai fakta baru you judge.

Sekiranya itu sedikit banyak yang bisa saya tuangkan dalam bentuk tulisan mengenai Bumi Manusia.
Tabik.

Thursday, September 6, 2018

Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa

 Hari ini ibu saya pulang dari pasar setelah pulang misa dari gereja. Seperti biasa saya atau adik akan membuka isi keranjang, syukur syukur ada kacang tanah, kue atau jeruk.

Dan kemarin ada dua mangkuk bakso. Ah, ibu, dia tahu saya sore hari kemarin ingin makan bakso.

Lalu dia membuka satu kantong plastik lagi.
Begini katanya, "ini, coba dahulu, pas tidak ukurannya. "
"Apa ini?"
"Baju"
"Kenapa mama beli saya baju?"  Tanya saya sambil saya coba baju kemeja biru muda. Warna kesukaan saya. Saya bisa beli sendiri apalagi sekarang bisa online. Eh ini mama belikan dari pasar.

"Sudah lama mama ti beli kasih ko baju"

Saya terdiam, tersentuh tapi pura-pura sibuk mengepas baju.  Ya Allah, ini kasih ibu memang sepanjang masa. Sudah bukan masanya saya dikasih hadiah baju. Dulu setiap kali ulang tahun dan tentunya sampai 2012 sebelum saya lulusan.

Dan mama saya ini memang selalu khawatir, anaknya kalau pun punya uang, tidak terlalu suka belanja belanja baju atau sepatu. Kalau butuh baru belanja dan jarang update baju dengan model terbaru.

Bahkan mama sibuk komentar kalau saya tidak pakai bedak atau lipstick.  Selamanya memang mama kita akan memperlakukan kita sama seperti waktu kecil. Kadang-kadang saya bisa menjadi sangat kasar pada mama saya karena tidak mau diatur-atur. But, mama knows well right?

Selain baju biru tersebut, karena tahu saya akan pulang ke rumah, mama juga belikan saya sarung baru. Sarung yang biasa dipakai saat acara-acara adat dan acara keluarga lainnya.

NB: Foto diambil Di kampung Udi Worowatu, rumah pokok aka rumah nenek moyang (sekitar dua jam dari Mbay). Saya berfoto dengan sepupu sepupu yang jarang bertemu, dengan mengenakan sarung baru yang dibelikan mama.

Tuesday, July 24, 2018

Keberangkatan ke New Zealand 2

 Halo good and positive readers, 

Hope you are happy, happy and happy. 

Sebelum berangkat kami mengikuti program pre departure di Jakarta tanggal 19 -20 Juli. Saya dan tim dari Kupang berangkat tanggal 18 Juli. Saya sengaja memilih satu hari lebih awal karena ada niatan reuni anak Depok di rumah Erlyn sekaligus ikut merayakan idul fitri. 

Pesawat yang kami pilih adalah batik air karena langsung dari Kupang ke Jakarta tanpa transit. Saya kurang suka kalau harus transit karena tidak nyaman pada saat pesawat lepas landas. Juga  menurut saya Ba**k lebih baik dari Ga**** untuk jalur penerbangan yang sama.  Pengalaman yang berbeda kali ini di pesawat, layar LCD di bangku penumpang sudah bisa digunakan dan sangat membantu untuk menghilangkan rasa bosan selama penerbangan. Berbeda dengan penerbangan sebelumnya di Desember 2017 dengan menggunakan Ga****.  

Shakti Hotel, Dorm room
Yay, saya juga akhirnya bisa merasakan kamar dorm di Jakarta ala ala backpacker di Shakti hotel. Lokasinya sebenarnya strategis untuk ke pasar Baru dan Stasiun Kota.  Sangat direkomendasikan untuk yang melakukan perjalanan budgeting. Namun untuk kasus saya kemarin lumayan jauh dari Condet, tempat reuni diadakan. Sekilas tentang reuni, tentu saja menyenangkan. Ada Wawan, Daniel, Rew, Reny dan sang pacar, ada Imelda juga. We were having really good time. 
Kamar dorm di Shakti Hotel.

Kembali ke pre departure, seluruh peserta INSPIRASI program berkumpul di Hotel Bellevue Suites Hotel Radio Dalam tanggal 19 July sekitar jam 13.00. WIB. Materi yang diberikan terkait dengan persiapan mental dan fisik serta administrasi untuk keberangkatan. Ada kakak-kakak trainer yang merupakan alumni dari program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada yang sharing pengalaman dan ilmu untuk kesiapan kami di New Zealand. Terima kasih banyak, kakak kakak. 

Yeay, lalu perjalanan dimulai, tanggal 21 July 2018. Kami menumpangi pesawat Philipine Airlines Jakarta-Manila sekitar pukul 1300 namun pesawat delay kurang lebih 1 jam. Kalau dipikir-pikir jarak yang Indonesia-NZ yang kira-kira 7700 km  namun kami harus ke Manila dulu, yang artinya menambah jarak menjadi kira-kira 8000 km. Yups tergantung sama yang beli tiket :D. 
Mind my bad, layar monitor belum berfungsi dan perjalanan kurang menyenangkan. Jadi jika dibandingkan dengan penerbangan Kupang-Jakarta dengan Batik, lebih nyaman dan menyenangkan Selama 4 jam, buka kindle, tidur, bangun, tidur bangun. 

Kami transit sekitar 2 jam di bandara Manila yang tentu saja sangat berbeda jika transit di bandara KL atau SG. Lebih sempit. Kami menyempatkan diri untuk makan malam. Lalu malam sekitar pukul 22-23, kami berangkat ke Auckland. Pesawat yang kami tumpangi berbeda dari sebelumnya, tentu saja, lebih luas dan fasilitas yang oke. Juga, untuk pertama kalinya eike ngetweet dari pesawat pakai internetan gratis 15 menitan. What a technology! 

Baiklah setelah menghabiskan waktu kira-kira 10 jam penerbangan, kami tiba tanggal 22 Juli di Auckland.  Cuaca cerah namun disambut dengan angin dingin setelah keluar bandara. 
 Dari bandara, kami dijemput Mike salah satu volunteer UNIONAID untuk bertemu bersama host kami selama di Auckland. Syukurlah, masing-masing kami tinggal di homestay sehingga benar-benar bisa belajar banyak hal. Saya tinggal dengan Kath dan Mike, Haonan ( siswa SMA dari China yang sudah tinggal bersama homestay parent selama 4 tahun) juga Ollie (kucing)




Bersambung. 

Posted from AUT Tower 13th floor. A really nice room. 





Thursday, July 19, 2018

Keberangkatan ke New Zealand 1

 

I am humbly thanks and grateful for beautiful words,support and advice you have shown along the way, God, dear friends and the universe. 
Halo readers, di post kali ini saya akan membahas cerita perjalanan saya ke New Zealand.  Puji Tuhan, bisa mendapat pengalaman berkesan seumur hidup seperti ini. Once in a lifetime to have such leisure experiences. I know a lot of friends are happy for me, especially those who knows that how many times I have been trying to such an opportunity. I have been failed many then finallygot this amazing trip before 30. 😊 I am humbly thanks and grateful for beautiful words,support and advice you have shown along the way. 

Kok bisa ke New Zealand? Sekolah lagi kah? Pertanyaan ini akan dibahas dalam postingan ini.
Semoga postingan ini,  bisa memberi pencerahan dan berbagi inspirasi untuk mereka yang punya keinginan untuk ke luar negeri.

Program yang saya ikuti adalah program  INSPIRASI untuk pekerja NGO ( LSM)  yang belum berusia 30 tahun. Target peserta adalah pemuda dari kawasan timur Indonesia.  Program ini merupakan program kerja sama UNIONAID dengan pemerintah New Zealand. Berikut adalah requirement yang harus dipenuhi oleh calon peserta:

Saya kebetulan bekerja dengan WISE-WASH in Southeast Asia, semacam start up ( jadi masih muda dan baru, foundernya anak TL ITB), social enterprise yang bergerak di bidang lingkungan, air, dan sanitasi. Fokus utama WISE adalah pengembangan komunitas, perubahan perilaku dan pengembangan kapasitas. Layanan kami mulai dari bergerak bersama komunitas juga menjadi konsultan dan melakukan penelitian. Dua tahun pertama saya lebih akrab dengan konsultan & penelitian juga internal organisasi )  dan belum maksimal di pengembangan komunitas.  Untungnya di program INSPIRASI New Zealand ini kami akan belajar banyak mengenai pengembangan komunitas juga peningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Masih banyak kekurangan saya dalam menulis laporan berbahasa Inggris. Jadi kalau sering postingan bahasa Inggris itu karena memang lagi belajar menulis.

Perjalanan dengan WISE dimulai dari 2015 sebagai volunteer kemudian part timer di Agustus 2017 ketika sidang selesai sambil menunggu wisuda ( field manager) .  Lalu Oktober 2017 menjadi full timer di WISE ( core team member). Thanks to technology, semua tim WISE bekerja dari  jarak jauh. Jadi saya bekerja dari mana saja, kadang di Mbay, Kupang dan juga New Zealand, selama ada akses internet. Kemudian teman saya, Yoke, salah satu founder WISE bekerja dari Singapura, juga teman-teman lainnya ada yang dari Palembang, Berlin, Kamboja dan Bandung.

Saya juga sebagai volunteer di Yayasan Sao Mere  (Yayasan Solidaritas anak, orang muda dan perempuan) yang berlokasi di Mbay, Nagekeo, fokus sebagai tim fundraising. Namun belum maksimal. Proposal masih gagal, haha, tapi tak apa, berproses.

Namun baiknya adalah selama proses pengembangan diri di sini, job desk utama adalah mengikuti kegiatan dengan baik selama 6 bulan. Lainnya paling menulis dan posting aktivitas harian. Thanks WISE for the good working environment & support. 

Proses seleksi berlangsung ketat karena banyak sekali kandidat yang tertarik. Setelah mengirimkan persyaratan administrasi juga menjawab beberapa pertanyaan penting, pada tanggal 19 Maret 2018 saya mendapat email dari ibu Sherly dari Yayasan Bhakti kalau saya masuk shortlisted. Puji Tuhan! Kami kemudian diberitahu untuk mengikuti proses selanjutnya  pada tanggal 12 April 2018 untuk mengikuti proses wawancara di Hotel On the Rock, Kupang. Sekitar 8 peserta shorlisted dibagi ke dalam 2 kelompok wawancara.
Berfoto bersama pewawancara. 1 vs 5 pewawancara (BaktiID, UNIONAID, Kemenpora RI,  & NZ Embassy) juga peserta lain dari Sumba & Kupang. 

Pembukaan proses seleksi
Proses wawancara terdiri dari 3 tahapan dan dilakukan secar abergantian oleh kanditat. Tes Bahasa Inggris yang terdiri dari writing dan grammar. Kemudian semacam focus group discussion dan berakhir dengan wawancara 1vs 5 (quite surprise on this, biasanya 1 vs 3). Saya sempat pesimis tidak terpilih, karena pada saat wawancara saja sudah dikasih tahu kalau akan ada program yang sama di tahun depan, jadi semacam firasat, gagal lagi nih.
Lalu yeayy, ada email masuk dari Laila di 21 April 2018. God, really, I am going to New Zealand! I coulnt believe it! 

Sempat galau karena saya sempat membantu mengajar di salah satu perguruan tinggi di Kupang sekitar 2 bulan  Untunglah masih awal semester, jadi bisa digantikan dosen lain), mengajar mk Kimia Lingkungan, Kimia dan sedikit mengenai Pencemaran Udara. I miss the class but definitely have to choose NZ.

Passpor OK, visa OK, lalu kegiatan pre departure di Jakarta  selama 2 hari dengan materi oleh Kemenpora RI & Kedutaan New Zealand.
Kiri Ke Kanan : Sherli ( Koalisi Perempuan Indonesia), Citra ( Burung Indonesia), Tirsa (Heka Leka), Ete ( Perkumpulan Pikul), pak Imam ( Kemenpora), Trevor D Matheson, Duta Besar NZ di Indonesia., Ifa ( Yayasan Lemina), Tiwi (LBH Makassar) dan Fauzan ( TenunID) ---OUR HAPPY FACES BEFORE DEPARTURE

See you on the next post. 
Posting from AUT Library, 2.22 pm. 





S.Ak

​Kemarin saya menerima telpon group dari mama saya dan adik saya. Ternyata hari itu adik saya sudah mengabari kalau dia akhirnya selesai sid...